10 Seni Budaya Pementasan Terseru Di Indonesia

10 Seni Budaya Pementasan Terseru Di Indonesia

10 Seni Budaya Pementasan Terseru Di Indonesia – Tahun politik jadi tahun yang kira- kira suram untuk bumi seni pementasan Tanah Air. Tidak banyak seni pementasan yang terlaksana sejauh tahun ini tetapi buatan luar lazim di dasar ini pantas diacungi jempol.

10 Seni Budaya Pementasan Terseru Di Indonesia

10 Seni Budaya Pementasan Terseru Di Indonesia

mayfairfestival – Menghadap akhir tahun, detikhot membagikan penghargaan pada insan inovatif yang berkreasi tahun ini. Selanjutnya 10 seni pementasan terhot sejauh 2019 dalam antrean random, di antara lain:

Baca juga : Berikut 10 Festival Seni Terbaik yang hadir pada Tahun 2019 yang lalu

1. I La Galigo

Ribuan laman yang terdapat dalam Sureq Galigo diadaptasi jadi seni pementasan I La Galigo. Dokumen klasik I Galigo berhasil diselenggarakan pada 5, 6, serta 7 Juli 2019 di Ciputra Artpreneur Theatre, Jakarta.

Tidak memerlukan gebyar yang lain untuk I La Galigo buat diucap selaku buatan kategori bumi. Dengan julukan besar Sureq Galigo yang telah melegenda semacam Ramayana serta Mahabharata, I La Galigo jadi pementasan terbaik tahun ini.

I La Galigo, Menghidupkan Lagi Cerita Sawerigading dari Tanah Bugis

Layar besar terletak di balik pentas yang mendadak berganti warna jadi nuansa biru. Wujud laki- laki berpakaian serba kuning naik serta bersandar bersila di pinggir bagian kanan pentas.

Di depannya ada meja pendek serta novel tebal yang nampak kuno, lalu dibukanya. Belasan player nada mengikutinya masuk serta bersandar di bagian melintas yang lain.

Contoh pencerita, pria itu jadi pembuka serta penyambung ceruk narasi dalam hidangan I La Galigo yang dikala ini dipentaskan di Ciputra Artpreneur Theatre Jakarta. Panggung juga dibuka dengan alunan bahasa Bugis yang dibacakan pencerita.

Kala beliau lagi membacakan dengan diiringi nada khas Bugis, para player masuk perlahan sembari bawa sebagian perabotan.” Bila Bumi Tengah selesai saat ini, siapakah yang hendak ingat hikayat Sawerigading? Saya merupakan putranya, I La Galigo. Kasih saya durasi buat menggambarkan cerita keluargaku serta para dewa,” tutur seseorang anak dalam bahasa Bugis.

Narasi beralih ke segmen selanjutnya kala orang berumur I La Galigo mulai dilantunkan dalam tipe drama pentas. Cerita dulu kala, terdapat Batara Guru yang turun ke alam buat jadi raja. Batara Guru itu menyuruh kerajaan Luwuq di Tanah Bugis serta mempunyai anak sebandung bernama Sawerigading( papa I La Galigo) serta We Tenriabeng.

Keduanya hidup terpisah semenjak sedang kecil. Sawerigading yang musafir serta petualang disurut menjelajahi mengitari laut. We Tenriabeng yang menawan jelita bermukim di dekat Kastel.

Kala Sawerigading mau menikah serta mencari istri, terdapat seorang yang memberitahu jika terdapat wanita menawan di kastel kerajaannya. Kala masuk ke ruangan, beliau langsung jatuh cinta pada kerabat kembangnya.

Rasa jatuh cinta serta bernazar meminang We Tenriabeng diutarakan Sawerigading pada bapaknya. Tetapi ramanda marah.” Jika anda menikahi kerabat kembarmu, hendak terdapat kejadian yang untuk kerajaan ini ambruk,” ucap papa Sawerigading.

Ia juga sakit batin serta membuat kekacauan di kerajaan. Cuma We Tenriabeng yang sukses memendam amarah Sawerigading.

” Di Tanah Cina anda hendak menemui wanita sangat menawan bernama We Cudaiq. Pergilah ke situ dengan membuat kapal dari tumbuhan sangat bersih di Tanah Bugis, nikahilah ia,” ucap We Cudaiq.

Cerita cinta ilegal Sawerigading serta We Cudaiq jadi bahan romansa dalam pementasan I La Galigo. Hidangan itu didapat dari epik Sureq Galigo di era ke- 13 serta ke- 15 dalam wujud bahasa Bugis kuno.

Ekspedisi Sawerigading ditunjukan oleh sutradara Amerika Robert Wilson. Sebaliknya naskahnya ditulis oleh dramaturg asal New York, Rhoda Grauer.

Sepanjang 2 jam lamanya, pemirsa hendak kagum dengan berseni pentas yang simpel, game aturan sinar, keglamoran kostum bersama warna- warnanya konsep Bin House yang kala disorot lampu pentas menaikkan gebyar I La Galigo. Kelihaian akting serta koreografi player juga tidak diragukan lagi.

Ditambah penghargaan nada gubahan Rahayu Supanggah yang menaikkan eksotik pementasan I La Galigo. Tiap segmen yang didatangkan musiknya senantiasa berlainan, tiap aksi dalam drama juga serupa. Rahayu Supanggah bersama 70 instrumen nada konvensional Sulawesi, Jawa, serta Bali berhasil mengalun pemirsa.

Tidak memerlukan gebyar yang lain untuk I La Galigo buat diucap selaku buatan kategori bumi. Dengan julukan besar Sureq Galigo yang telah melegenda semacam Ramayana serta Mahabharata kemagisan I La Galigo telah membuat orang yang ketahui asal usul serta adat Tanah Bugis saja dapat merinding.

Tiap perinci pementasan tidak bebas dipikirkan Robert Wilson cs. Kelainannya cuma tidak terdapat lagi Bissu yang membacakan dokumen dalam drama. Kelihatannya Yayasan Bali Purnati bersama Ciputra Artpreneur sukses bawa julukan I La Galigo balik lagi ke Bunda Kota yang kedua kalinya, sehabis bertualang ke 9 negeri serta 12 kota di bumi.

Baca juga : Galleria Borghese Galeri Seni Dibekas Villa Borghese Pinciana

I La Galigo jadi atraksi harus akhir minggu ini. Karcis pertunjukannya pula sedang dapat dipesan di Ciputra Artpreneur buat jam panggung jam 15. 00 serta besok hari di jam yang serupa. I La Galigo jadi batu adiratna tersembunyi yang berhasil diasah jadi permata. Aman melihat!

Dokumen I La Galigo Tidak Takluk Hebat dari Adikarya Mahabharata

Dokumen kuno kaum Bugis I La Galigo menemukan pengakuan UNESCO selaku dokumen terpanjang di bumi. I La Galigo juga diadaptasi jadi pementasan pentas yang disutradarai Robert Wilson oleh Yayasan Bali Purnati.

Apa sih istimewanya dokumen I La Galigo yang pertunjukannya berhasil melanglang buana ke 9 negeri serta 12 kota di bumi?

Pengarang dokumen I La Galigo, Rhoda Grauer, mengatakan telah sebaiknya Indonesia besar hati mempunyai dokumen semenarik I La Galigo. Apalagi I La Galigo diucap tidak takluk hebat dibanding Mahabharata serta Ramayana.

” Naskahnya sedikit berlainan dari buatan klasik yang lain. Amat sungguh- sungguh tetapi pula terdapat faktor komedinya. Kadangkala yang membacakan dokumen I La Galigo di acara pernikahan pula terencana memasukkan perihal lucu buat menemukan atensi audiens,” ucap Rhoda Grauer kala berbicara dengan detikHOT di Ciputra Artpreneur, belum lama ini.

Rhoda Grauer ialah salah satu wujud berarti dalam mempertunjukkan I La Galigo. Saat sebelum menorehkan jadi dokumen pentas, beliau melaksanakan studi bertahun- tahun lamanya.

Hingga wanita asal New York itu bermukim di Pulau Dewata untuk melancarkan penelitiannya itu. Dalam tipe pentas, I La Galigo dikisahkan dari dini invensi orang dalma kosmologi Bugis, hingga pengisahan orang berumur I La Galigo ialah Sawerigading serta We Cudaiq dari Cina.

” Terdapat sebagian tipe dari I La Galigo. Terdapat satu cerita yang dikatakan dengan cara pendek serta terdapat tipe panjangnya. Aku minta sebab hidangan ini, dokumen kuno Sureq Galigo jadi kekal. Kita seluruh yang di pentas pula bisa mementaskannya dengan sempurna,” pungkasnya.

2. Para Purnakaryawan 2049

Di keramaian ke- 36 tahun, Pentas Gandrik mengadakan pementasan Para Purnakaryawan 2049. Tema yang didatangkan juga pertanyaan kematian serta penggelapan di tengah situasi sosial politik Tanah Air di tahun 2019.

Tampak sepanjang 2, 5 jam, Pentas Gandrik berhasil menggojlok perut pemirsa dengan perbincangan yang renyah, fresh, serta dibawakan dengan cara jenaka. Latarnya merupakan 30 tahun sehabis 2019 ataupun kala penggelapan terus menjadi menggila hingga dibuatkan UU Pelakor.

3. J. J Sampah- sampah Kota

Pementasan Pentas Koma yang bertajuk J. J Sampah- Sampah Kota diselenggarakan pada November 2019 di Graha Bhakti Adat, Regu, Jakarta Pusat.

Sepanjang 3 jam lamanya, pemirsa hendak memandang peperangan Jian serta Juhro yang ialah masyarakat kolong jembatan terhimpit oleh situasi sosial ekonomi. Drama pula terasa renyah dengan sentilan mengenai situasi politik serta sosial yang terjalin di Indonesia.

4. Musikal Cinta Tidak Sempat Sederhana

Titimangsa Foundation berhasil membuat pementasan di dini tahun 2019. Musikal puisi- puisi cinta yang bertajuk Cinta Tidak Sempat Simpel. Perbincangan yang terbuat Agus Noor dirangkai dari potongan- potongan syair jadi dokumen pentas.

Sebaris player semacam Reza Rahadian, Marsha Timothy, Sita NUrsanti, Chelsea Islan sampai bintang film Butet Kartaredjasa bermain dalam pementasan itu.

5. Drama Boneka Si Pengawal Hati

Tidak banyak seni pementasan yang mencampurkan antara drama boneka orang, musikal, serta koreografi bermutu. Pada Juni 2019, Swargaloka memperkenalkan drama Si Pengawal Batin yang terbuat dalam bahasa Indonesia serta style kekinian buat angkatan milenial.

6. Goro- Goro: Mahabarata 2

Tahun ini, panggung Goro- goro: Mahabarata 2 merupakan buatan terbaik di yang dimainkan Pentas Koma. Studi ke Dusun Ciptagelar, 100 persen teknologi multimedia, gebyar berseni, kostum yang memanjakan mata serta akting para player tua tidak diragukan lagi.

7. Boneka Golek Den Kisot

Dari cerita klasik khas Spanyol Don Quijote, suatu pementasan diselenggarakan di Komunitas Salihara, Jakarta Selatan pada Juli 2019. Julukan Don Quijote diplesetkan jadi Den Kisot asal Tanah Sunda.

Garapan Edo Suanda yang mencampurkan antara pentas pentas, boneka golek, serta akting player mamp melahirkan jenis terkini di bumi pementasan.

8. Saya Anak Rusun

Di penghujung tahun 2019, operet Saya Anak Rusun kembali diselenggarakan di Ciputra Artpreneur Theatre, Jakarta. Dipelopori oleh Veronica Tan, lakonnya mencampurkan antara musikal, koreografi para bedaya serta player yang berawal dari kanak- kanak rusun yang bermukim di Jakarta.

9. Bersenandung Sepi Revolusi

Kembali ke dini tahun 2019, Titimangsa Foundation mengadakan panggung Bersenandung Sepi Revolusi yang didapat dari wujud penyair Amir Hamzah. Lukman Sardi sampai Prisia Nasution ikut berperan.

Istimewanya panggung ini memperkenalkan wujud Amir Hamzah yang terletak di antara kegentingan Revolusi Sosial Hindia Belanda dikala itu.

10. Opera Gandari

Opera Gandari tidak semata- mata narasi Mahabarata pada biasanya. Opera yang dipentaskan di Jakarta serta Frankfurt itu muncul dalam rancangan kontemporer, dengan aduk tangan Christine Juri selaku pencerita serta Peter Veale selaku pengaba.

Panggung ini juga dipuji oleh peminat nada klasik serta narasi Mahabarata di penghujung tahun 2019.